Searching (2018)

Oke..

..kayak judulnya filmnya nampilin layar komputer yang dipake searching-searching gitu, kayak kita nonton layar komputer sendiri, dan katanya sih film kayak begini itu yang nampilin layar komputer buat cerita di film itu baru satu dan film Searching ini yang kedua, yang pertamanya judulnya Unfriended (2014).

Filmnya ini di-direct sama Aneesh Chaganty yang ditulis sama dia sendiri ditemanin sama Sev Ohanian. Katanya sih ini film pertamanya dia. Aneesh Chaganty ini gue liat di IG-nya sih kayaknya orang India. Dia cerita di instastory-nya ini baru pertama direct film, gara-gara bikin film ini dia keluar dari jobnya dia di Google dan langsung keluar gara-gara sebelumnya dia bikin short movie film ini (yang awalnya film Searching ini baru versi pendeknya doang buat ngetes apakah bagus atau enggak,  test-footage gitulah. Ternyata hasilnya lumayan “boleh nih dibikin 90 menit” tadinya cuman 8 menit doang, abis itu dibuat adegan pembukanya ternyata bagus dan dibuatlah film Searching versi panjangnya, gitu)

Btw,  ini film berkisah tentang seorang ayah yang bernama Kim, nama panjangnya David Kim yang diperankan oleh John Cho. Dia orang Korea yang tinggal di Amerika. Selidik punya selidik ternyata John Cho ini dulu yang meranin Sulu di Star Trek.

David Kim ini habis sedih-sedihnya karena ditinggal istrinya (Sara Sohn) meninggal dan harus hidup cuman berdua bareng anak ceweknya, namanya Margot (Michelle La), pada suatu hari anak ceweknya ini tiba-tiba ngilang. David Kim ini mencoba untuk menyelidiki dan mencari penyebab anaknya hilang.

Gitu doang sinopsisnya sih, ceritanya ya gitu doang, udah. Udah banyak juga film dengan cerita kayak begini, tapi film ini itu unik yaitu packaging film ini itu fresh banget. Iya, yang nampilin screen komputer film cuman berapa, yang pertama Unfriended dan yang kedua ya film ini. Keren banget, kan. Kayak kita lihat hasil rekaman screen recorder, ngerekam layar pake screen recorder, ngerekamin hasil searching-searching kita di laptop, direkam pake screen recorder terus jadiin film. Sebenarnya juga kita udah sering liat hasil rekaman screen recorder kayak di Youtube yang tutorial-tutorial gitu tapi buat dibikin film itu siapa yang kepikiran.

Film ini full nampilin layar komputer doang, gitu, dan yang gue suka ini benar-benar dari awal yang mana film ini juga nunjukkin perkembangan teknologi juga. Dari awal cerita pas si David Kim masih sendiri, terus pas baru nikah istrinya itu punya laptop dan laptopnya itu isinya Windows XP yang gambar wallpapernya masih bukit hijau sama langit, terus beranjak ke anaknya yang millenial banget laptopnya pake iMac. Menurut gue ini keren banget.

Selain itu, filmnya asyik dan seru banget. Menebak-nebak. Kita bukan cuma disuruh untuk menebak pelakunya siapa tetapi juga kemungkinan-kemungkinan hal-hal yang terjadi pada Margot. Apakah kabur, ataukah dia diculik, ataukah dia meninggal, ataukah dia punya hubungan buruk dengan ayahnya yang dipendam sendirian. Kemungkinannya itu banyak. Dan yang gue suka pelakunya itu gak terpusat kita langsung nge-judge ke satu orang gitu tapi banyak kemungkinannya. Kayak kita pas nonton tuh: wah ada lagi nih kemungkinannya, wah ada lagi, wah ada lagi!

Gue seneng sampe akhir, gue nikmatin, seruu walaupun dalam keadaan capek dan nonton di pemutaran jam 9 malem. Tapi emang kata teman gue gue sempat ketiduran di bagian terakhir karena rada flat gitu.

Keren , karena film ini juga masuk Sundance Film Festival karena gak banyak debut film dari seorang sutradara langsung masuk Sundance Film Festival.

Film ini juga menyoroti hal negatif dari pola perilaku internet zaman now, kayak banyak orang panjat sosial, cara orang biar viral orang lain lagi berantem direkam terus dikomenin nyalahin orang padahal mereka gak tau kejadian aslinya kek gimana. Terus yang suka mengikutin perkembangan IT bakal suka film ini gue jamin. Karena banyak detail kecil kayak antivirus Norton, ada recycle bin gitu, Ya Allah lucu banget.

Film ini juga gak melulu soal thrilller gitu ada selipan komedinya juga di beberapa adegan. Menurut gue ini biar gak serius-serius amat tapi emang ceritanya emang bagus banget.

Kekurangannya pas di akhir-akhir agak ngantuk pas udah kayak semua kemungkinannya dibuka semua, iya disitu gue agak ngantuk. Kayak udah pernah liat di film-film lain tapi dari awal gak ketebak arahnya ke mana tapi di akhirnya itu agak flat ya gue jadinya ketiduran sebentar.

Kekurangannya baru kepikiran segitu sih, recommended banget film ini temen gue sampe bilang film terbaik tahun ini, apakah benar? makanya nonton.

Fakta unik dari film ini yaitu terinspirasi dari film M. Night Shyamalan, doi yang bikin Sixth Sense, pantesan plot twistnya rada gokil. Yang bikin seneng istrinya David Kim, Pam itu pas ngeliatnya aja langsung sayang. Yang meranin Pam itu populer karena dia pernah main di Furious 7 jadi Hanna.

Segitu dulu dari gue, jangan lupa jaga kesehatan karena Oktober bentar lagi ada Venom dan btw kemarin foto first-look dari Captain Marvel sudah bertebaran di jagat internet, keren…

~

Advertisements

The Lobster (2015)

Pilihan gosipin film episode ini jatuh ke film The Lobster (2015), yang kedengeran dari judulnya aja langsung kebayang makanan seafood gitu. The Lobsters adalah film bikinannya Yorghos Lanthimos, yang bikin film The Killing of a Sacred Deer (2017). Doi asal Yunani yang punya gaya storytelling yang cenderung absurd, dark humour, thriller,  dan hobi bikin audience ngerutin dahi plus memicingkan mata.

Dilihat dari judulnya enak, terdengar kayak menu makanan di tenda seafood pinggir jalan. (Emang ada lobster ya?) Udahlah anggap aja ada, kepiting sebut aja lobster. Hehe

Balik lagi ke soal film ini, filmnya nyeritain dimana kita hidup di dunia distopia (an imagined place or state in which everything is unpleasant or bad, typically a totalitarian or environmentally degraded one). Dalam dunia film ini ada dua tempat yang bisa lo pilih. Yang menguntungkan dua tim, Tim Couple dan Tim Jomblo.

Yang pertama tempat yang menguntungkan Tim Couple atau tim berpasangan atau tim pacaran. Tempat yang menguntungkan Tim Couple adalah di hotel dan di perkotaan. Untuk Tim Couple bisa hidup bebas dan dilepas ke perkotaan itu harus menjalani masa training di hotel selama 45 hari. Selama 45 hari itu Pembaca Setia harus bisa dapetin pasangan.

Konsekuensinya kalo gagal pacaran alias putus nanti dikutuk jadi hewan.

Ngeri banget, yak, sekaligus lucu. Kalo ini berlaku di Indonesia udah lah punah umat manusia dikutuk jadi hewan semua soalnya banyak jomblonya.

Oh, iya, ceritanya bakal berpusat di seorang pria paruh baya yang seperti baru bercerai dan baru menjomblo bernama David (Colin Farrell) dan membawa kakaknya yang baru dikutuk menjadi anjing (yang gagal dapet pasangan juga).

Dia kalo gagal dapet pasangan di hotel itu memilih dirubah menjadi lobsters yang katanya umurnya panjang bisa sampai ratusan tahun.

Bayangin, di hotel itu pressure-nya kayak gimana. Orang-orang banyak yang sangat desperate untuk mendapatkan pasangan.

Yang justru ketika harus mendapatkan pasangan sesegera mungkin malah jadinya susah. Malah jatohnya banyak yang pura-pura jatuh cinta dan sayang sama orang lain buat nunjukkin ke dunia kalo dia udah berpasangan.

Contohnya adalah temannya David di hotel itu yang disebut The Limping Man/Pria Pincang (Bhen Whishaw) yang sampai berpura-pura punya mimisan kambuhan, nonjokkin hidungnya sendiri sebelum ketemu pasangannya supaya bisa bikin chemistry dengan si cewek yang suka mimisan atau nama di film itu Nosebleed Woman (Jessica Barden).

Tapi ada tempat yang sangat melarang kamu punya pacar, yaitu hutan dan pedesaan, tempatnya Tim Jomblo alias Tim Loner.

Orang-orang yang gagal punya pasangan di hotel larinya ke hutan dan pedesaan. Yang kadang seminggu sekali suka ada inspeksi dari Tim Couple ke hutan-hutan untuk mencari jomblo yang berkeliaran yang nantinya ditangkap dan harus dirubah jadi hewan.

Konflik terjadi ketika David berhasil melarikan diri dari hotel yang menuntutnya untuk punya pasangan tapi tidak berhasil. Dan David bertemu dengan Tim Jomblo.

Justru, di Tim Jomblo kalo ada yang ketahuan punya pacar atau berpasangan atau jatuh cinta akan langsung dibunuh sama kelompok para jomblo. Leadernya Tim Jomblo nya (Lea Seydoux) galak banget, tapi cantik.

Uniknya, ketika dunia justru ngelarang lo buat punya pacar, si David dengan gampangnya menemukan sesosok wanita pendek/Short Shighted Woman (Rachel Weisz) yang bikin dia jatuh cinta.

~

Film yang sungguh unik dari Yorghos Lanthimos, give applause dulu, lah. Dark humournya justru lebih ngena film ini ketimbang film dia yang satunya, The Killing of a Sacred Deer (2017).

Bagi kamu yang mungkin penonton awam akan kaget dengan gaya penceritaannya Lanthimos yang cenderung datar, scoring musik yang aneh dan repetitif. Jujur bakal bosen juga ngeliatnya tapi thrillernya apakah si David ini bakal jadi lobster itu sungguh bikin gue penasaran?????

Gue tungguin sampe akhir film, jadi lobsters gak nih, jadi lobsters gak nih????

Di beberapa bagian bikin ngantuk juga, sih, tapi ya kok kampret banget, yak, filmnya. Saking bijak filmnya itu banyak pesan yang tersembunyi tentang relationship.

Mengundang banyak pertanyaan seperti: mending punya pacar tapi sayangnya pura-pura atau harus pura-pura jomblo ketika lo punya pacar yang sayang banget sama lo dan ingin terbuka atas pacar lo ini?

Mending hidup di lingkungan yang menuntut lo punya pasangan? Atau mending hidup di lingkungan yang melarang lo punya pasangan?

Bahkan ke pertanyaan, kalo selama 45 hari gue tinggal di hotel itu gagal dapat pacar, enaknya dikutuk jadi apa ya?

Jadi undur-undur kayaknya enak, kali, ya. Filosofinya ya supaya bisa bikin lubang di pasir aja sih.

~

 

 

Di pos pertama kali di simambahitam.blogspot.com pada 22 April 2018

 

 

 

Reuni Z (2018)

Reuni Z sendiri adalah kali kedua Soleh Solihun dan Monty Tiwa berkolaborasi menggunakan naskah yang digarap Soleh Solihun, Monty yang bantuin direct. Dulu pertama di film Mau Jadi Apa? yang berkisah soal Bang Soleh semasa kuliah di Jatinangor. Duo ini dulu-dulu juga sering kerja sama kayak di Shy Shy Cat namun sebatas aktor-sutradara, Bang Soleh belum nulis skrip.

Reuni Z yang punya slogan “Waktunya Teman Makan Teman” yang kali ini tidak akan menceritakan kisah nyata. Melainkan suatu fiksi nyeritain suatu reunian angkatan 97′ SMA Zenith, salah satu SMA di Jakarta yang tiba-tiba kacau balau gegara tiba-tiba banyak orang yang berubah jadi zombie. Bukan jomblo tapi zombie.

Cerita berpusat di satu grup pertemanan yang waktu tahun 97-nya itu mereka ngeband bareng, bandnya bernama Kagok Edan. Kagok Edan itu dari Bahasa Sunda yang artinya “hampir gila”. Dari namanya aja sudah mencerminkan Kagok Edan yang punya aliran musik keras metal hardcore yang suaranya bisa membuat hampir gila gendang telinga pendengar.

Anggota Kagok Edan adalah Juhana (Soleh Solihun) yang karena dia kini artis iklan terkenal dan aktor film namanya berubah jadi Joe Hanna.

Lalu Jefri (Tora Sudiro) pegawai kantoran yang hidupnya biasa-biasa saja dan terjebak rutinitas masuk jam 9 pulang jam 5, punya istri namanya Lulu (Ayushita) yang juga dulunya semacam kayak manajernya Kagok Edan. Terus ada Marina (Dinda Kanya Dewi) perempuan seksi dan cantik tapi punya kebiasaan aneh yang dulunya pernah jadi drummer Kagok Edan.

Dua puluh tahun yang lalu, tahun 1997, sebelum reuni terjadi, Kagok Edan sempat punya mimpi besar. Ingin menjadi band terkenal. Tapi memang reality sometimes is shit gitu loch.

Juhana yang sebelum jadi artis, dulu pengin jadi PNS supaya bisa menafkahi orang tuanya. Ini sempat menyempatkan pertengkaran hebat dan bubarnya Kagok Edan sehingga hingga reunian terjadi mereka masih saja berdebat soal dulu harusnya gini, kalo lo gak gitu dulu gue gak bakal gini, dan cekcok yang lain-lainnya..

Sungguh lumayan bertabur bintang karena dimeriahkan oleh Surya Saputra, beautiful one Cassandra Lee, dua komedian kondang stand up indo jogja Yusril Fahriza dan Ananta Rizky alias Rispo, dong!, Mawar alias Fanny Fabriana, bahkan Anjasmara (wowotek preketek) dan juga the one and only actor berdarah Kuningan, Jawa Barat,  yang kebanyakan berperan sebagai sekuriti tapi di film ini tumben gak jadi sekuriti, Ence Bagus.

Kasian tau Reuni Z ini gaungnya ketutupan sama film debutnya Bang Pandji, Partikelir. Namun timingnya seolah pas karena mengikuti John Krasinki yang pernah berlatar komedi di serial komedi Amerika, The Office sekarang bikin horror, A Quiet Place. Soleh Solihun juga yang sebagai stand up komedian ikut ah bikin horror juga. Sebelumnya juga Raditya Dika pernah bikin horror komedi di film Hangout, yang di film itu ada Soleh juga.

Karena ini film yang dibikin Soleh Solihun yang berlatar belakang stand up comedy pasti menanyakan kadar kelucuan. Kebanyakan bilang komedinya kurang gerrr, dan gue rasa juga gitu sih, gue kira gue doang atau selera humor gue terlalu tinggi, lucuan filmnya Bang Pandji, Partikelir kalo kamu cari film komedi yang dapat membuat kamu terkekeh kekeh daripada film ini.

Meski begitu idenya bagus banget, suatu reunian yang tiba-tiba kacau gara-gara virus zombie yang mewabah. Yang wujud zombienya juga belum pernah gue liat sebelumnya di film-film mana pun dan cukup menimbulkan efek horror dan ketegangan yang luar biasa. Patut diapresiasi untuk tim make up and wardrobe yang bikin penampilan zombienya sangat meyakinkan kayak ada semacam campur tangan Joko Anwar juga di sini yang juga doi di sini menjadi cameo. Sadistik dan gorenya tuh leg ugha, cek bahasa gaulnya mah. Ada juga adegan yang bikin ngilu ugha kek di A Quiet Place.

Yang mungkin sedikit tertebak arahnya cerita mau ke mana tetapi melihat kejadian zombie di Indonesia, ketika satu per satu orang berubah jadi mayat hidup berjalan itu adalah salah satu pengalaman gokil.

Hal unik yang disuka dari film ini adalah artis-artisnya kayak memang menimbulkan nostalgia atau reuni seperti judulnya, aktor dan aktris senior tampil di sini, kayak gue yang kangen liat Anjasmara nongol akhirnya terobati. Terakhir gue liat di sinetron UFO wowo tek preketek.

Walaupun kadar komedinya tidak sengikik Partikelir, yang kalo di dunia nyata Soleh Solihun sering ngritik Bang Pandji kurang lucu kalo stand up apalagi yang kemarin Juru Bicara, tetapi ada kok momen akhir yang sangat menimbulkan kengakakan dan plot twist yang aneh.

Dan kalo diinget-inget walaupun garing tapi banyak jokes yang masih bisa diingat. Salah satunya adalah, “Kou kou kou, kou naon, eh?

~

 

 

Dipos pertama kali di simambahitam.blogspot.com pada 15 April 2018.

The Killing of a Sacred Deer (2017)

Abis nonton film yang bikin pusing sekaligus merinding bosku.. agak ngeri-ngeri basah juga nonton film ini. Kali ini nonton film karyanya Yorgos Lanthimos asal YUNANI yang juga terkenal katanya sering bikin film dengan cerita yang horror, butuh mikir dua kali, thriller nya juga ada, dan sarat akan komedi yang gelap alias DARK HUMOUR. Doi yang bertanggung jawab atas film aneh yang saya tonton yaitu The Killing of a Sacred Deer.

Jadi ini bukan untuk penonton awam, bro. Habis nonton masih bingung plus halu setelah nonton film ini. Nontonnya tengah malam pula pas kosan lagi sepi-sepinya.

Diawali dengan adegan pembuka yang gelo, jantung seger lagi deg-degan dan masih idup diliatin. Gila, memang. Padahal itu saya sambil makan nontonnya.

Ternyata adegan itu ngasih tau kalo film ini berpusat di dokter bedah jantung brewokan yang gagah mirip John Krasinki di A Quiet Place (2018) bernama Stephen Murphy (Collin Farrell). Sumpah, mirip.

Stephen ini berteman dengan seorang remaja awkward tapi tatapannya agak menakutkan bernama Martin (Barry Keoghan) yang dia diliatin seperti punya hubungan akrab namun hubungannya semacam aneh n’ creepy.

Beberapa kali Stephen sering ketemu Martin bahkan ngajakkin Martin mampir ke rumah ketemu istrinya si Stephen (Nicole Kidman), kenalan sama anaknya si Bob (Sunny Suljic) dan anak ceweknya si Kim (Raffey Cassidy) yang mirip Jessica Barden The End of Fckin World yang wajahnya agak ada bekas-bekas jerawatnya.

Yang ternyata kenapa Stephen sama Martin akrab karena ternyata Stephen ini ada rasa bersalah jadi kayak mengayomi apa yang diminta si Martin kayak dibeliin jam tangan, diajak ke rumah, dan lain lainnya karena dulu ketika dia masih sering minum alkohol pernah melakukan malpraktek alias kesalahan operasi ketika mengoperasi ayah Martin, lalu akibatnya ayah Martin meninggal di meja operasi.

After that, Martin tiba-tiba jadi lebih agresif ke Stephen dengan ngajakkin ke rumah untuk bertemu ibunya padahal malem-malem. Abis itu gak diturutin, kan, sama si Stephen, dan kutukan pun datang. Anaknya Stephen yang cowok tiba-tiba lumpuh kakinya dan dibawa ke rumah sakit diperiksa diagnosisnya menunjukkan hal biasa aja. Gak lama setelah itu anak ceweknya nyusul, kayak gitu juga. Lalu, Martin, ngasih tau kalo itu gara-gara kesalahan yang disebabkan oleh Stephen dulu waktu dia membuat ayahnya meninggal. Caranya agar kedua anaknya Stephen sembuh, dia harus mengorbankan salah satu anggota keluarganya untuk dibunuh.

Awal-awal aja film ini udah aneh banget. Dark Humour-nya muncul dari gaya ngobrol para tokoh yang cuma dikit-dikit, cepat, dan terkesan cuma basa-basi tapi dialog-dialognya banyak yang deep.

Kehorroran dan thrillernya muncul dari musik scoring nya yang kayak musik klasik dan suaranya itu sangat sangat annoying memekakan telinga, ada sensasi budek sama ngangkat bahu dengernya. Yang kadang saya merasa lebay gitu tapi ya justru inilah letak kekampretannya dari sutradara asal Yunani ini, musik nya inilah yang memberikan nuansa artsy tersendiri dan memberikan experience yang gokil dalam menonton film.

Asoy.

Ceritanya pun unik, ya. Punya pesan tersendiri tentang kematian. Kalo kematian itu sesungguhnya adalah satu-satunya kuasa Tuhan yang paling sakral, film ini menyelipkan pesan dengan setting kedokteran kalo profesi dokter yang juga punya peran sebagai “tangan Tuhan” kadang disalahgunakan oleh manusia yang arogan ingin mengambil alih Tuhan dalam membuat manusia lain meninggal.

Akting Barry Keogan menurut saya paling gokil, sih, memerankan seorang remaja yang kadang awkward tapi juga punya jiwa psycho yang tinggi dengan tatapan yang mematikan. Menambah unsur ngeri di film ini jadi kian mantap, tapi sayangnya nuansa ghaib dan realismenya dari film ini masih kurang. Seperti cuma mengandalkan mitos semata dan emang aneh aja kok bisa di dunia modern kayak setting rumah sakit yang mewah dan science yang sudah maju tiba-tiba anak-anak Stephen ini seperti disantet tanpa ada sebab yang jelas. Menurut saya masih renggang, sih, tanpa dikasih penjelasan apa-apa.

 

 

Dipos pertama kali di simambahitam.blogspot.com pada 10 April 2018.

Partikelir (2018)

Ini adalah film debutnya Bang Pandji Pragiwaksono sebagai sutradara dan penulis skenario dalam sejarah karirnya, kalo akting sih beliau udah malang melintang. Ngikutin dua rekan kompatriotnya yang udah duluan, Raditya Dika sama Ernest Prakasa. I can believe this The Founder StandUpIndo Community’s trio now is officially all the director. WOW.

Gak terlalu menuhin ekspektasi saya, sebenarnya. Tapi seperti kata Bang Pandji dalam spesial show komedinya Juru Bicara, yaitu, “Mulai dulu aja lalu bikin yang lebih baik.” Soalnya dulu-dulu beliau sering naikkin ekspektasi gitu di promonya. Iya, Bang Pandji suka mention film buddy cop dan detektif terkenal yang bikin dia terinspirasi kayak film Lethal Weapon, 21 Jumpstreet, terus Hot Fuzz, bahkan Sherlock Holmes, sayangnya kalo mau bandingin sama film-film terkenal tadi kayaknya masih jauh, deh.

Partikelir sendiri bercerita tentang Adri (Pandji Pragiwaksono) dan Jaka (Deva Mahendra) yang berusaha menguak kasus gembong narkoba jenis baru namanya “rantau“. Yang ternyata….

Dari segi komedi banyak yang menghibur, yang bisa dibilang kata saya komedinya Bang Pandji di film berubah jadi absurd. Kalo di stand-up dia itu komedinya realistis. Sepertinya terpengaruh Coki Pardede yang juga bantu garap skripnya, kemungkinan.

Seperti kebanyakan film komedi. Kadang ada penonton ketawa, kadang ada yang enggak, tapi ada juga yang pecah satu bioskop. Berhasil banget kalo diliat dari bikin penonton ketawa, cuman ya keliatan aja kalo ada jokes yang miss. Sayangnya saya lebih banyak suka ketawa gara-gara Deva Mahendra sama Ardith Erwandha ketimbang gara-gara Bang Pandji. Kenapa ya? Apa Bang Pandji ingin memasang persona serius kalo di dunia perfilman? Lucuan filmnya Koh Ernest, tapi santai, stand up Bang Pandji lebih lucu dari Koh Ernest, Bang.

Banyak adegan gokil yang saya rasa belum pernah liat di layar perfilman Indonesia, seperti adegan pembuka kejar-kejaran di atas ribuan Bus TransJakarta. Agak bikin bingung juga di adegan itu kenapa gak milih soundtrack yang keren aja gitu Bang Pandji? Kenapa dipilihnya lagu “woow kamu ketahuan, pacaran lagi dengan dirinya teman baikku woow” kenapa itu?? padahal udah keren sih idenya adegan kejar-kejaran di atas bus transjakarta tapi ya soundtracknya itu, lho..

Transisi film ini saya rasa kurang mengalir. Banyak yang dipaksakan dan harus ada serta melompat-lompat. Film yang bertabur bintang sebenarnya. Deva Mahendra. Lala Karmela yang jadi istri Jaka, ada Kang Epi Kusnandar, ada Jessica Veranda, Shinta Naomi, para stand up komedian yang kondang kayak Gilbhas, Rigen, Awwe, bahkan Tretan Muslim. Sayangnya, porsi tampil Coki sama Muslim sedikit banget. Dan seperti kebingungan berusaha menyatukan semua bintang dalam film yang berdurasi cukup bentar ini.

Segi aksinya juga kurang. Padahal bilangnya komedi aksi, tapi aksinya itu terkesan kurang serius, gitu, lah. Yang digarap serius malahan aksi gitingnya doang. Padahal saya itu berharap pas aksinya serius dan becandanya tuh pas ngobrolnya aja gitu jadi seimbang. Terus, kadar detektif-nya kurang banget, kurang thrilling dan kurang bikin penasaran. Seolah-olah film ini menyangka penonton sudah tahu petunjuk-petunjuknya. Bahkan, harusnya di awal dijelasin apa itu rantau, tapi malah dijelasin baru di tengah-tengah….

Untungnya endingnya bagus. Ada momen dimana saya rasa film ini udah selesai, tapi ternyata masih ada lanjutannya dan ternyata disitulah letak keseruannya.

 

 

Dipos pertama kali di simambahitam.blogspot.com pada 7 April 2018.

A Quite Place (2018)

Minggu ini saya memutuskan untuk nonton sebuah film yang banyak orang bilang di trailernya gak ada sama sekali dialognya. Wow the hell, kok bisa?

Bisa, dong. Diem-dieman aja, Pokoknya, jangan ngobrol. Gak ngobrol tapi berkomunikasinya via bahasa isyarat alias sign languange.

Seperti kata jargonnya film ini. “If they hear you, they hunt you“. What the hell banget, lah, filmnya. Di sini bener-bener gak boleh ngomong, kalo kedengeran suara ngobrol aja, bakal ada makhluk misterius yang bakal menyerang lo. Makhluk misterius ini sungguh sensitif akan suara sekecil apapun.

Kisahnya berpusat pada keluarga yang hidup di sebuah kota terpencil. Berjumlah lima orang. Yang harus survive dari teror makhluk misterius ini.

Udah gitu aja.

Tonton. Bagus banget. Serius. Apalagi buat kamu yang suka horror dan thriller. Bakalan sangat puas sekali karena film ini bikin gak nyaman karena suasana yang dibikin di film ini. Bukan kaget-kagetan yang dibuat-buat, tapi memang quite nya yang sangat crazy. Bahkan penonton pun nontonnya jadi ikutan quite beneran. Kalo ada yang ngunyah pop corn pas nonton film ini jadi kedengeran.

Tentu bukan sama sekali gak ada suaranya, ada kok musik latarnya alias musik background alias musik scoring. Banyak juga suara suara dari alam yang jelas banget kedengeran kayak suara air, suara kayu gemeretak, suara angin. Dan ini jernih banget. Recommended nonton di Atmos makin mantap pengalamannya.

Walaupun yang buat ini sutradaranya berasal dari background yang komedi, doi yang dulu terlibat bikin serial The Office, John Krasinki, doi juga yang meranin ayah di film ini, bareng istrinya pulak, Emily Blunt. The Office tuh serial yang ngetren banget di Amerika Serikat. Tapi jangan diraguin, ya, soalnya Jordan Peele aja yang bikin Get Out (2017) itu dari Comedy Central, doi juga dulunya komedian, tapi bagus juga bikin film horror psychological thriller gitu. Tokoh antagonisnya di film Get Out itu terapis pula, terapis yang bisa hipnotis, bikin alam bawah sadar kalian agak terganggu.

Balik ke sini di di film ini keren, sih, actingnya John Krasinki duet sama Emily Blunt. Chemistry nya dapet banget karena di dunia nyata juga mereka aslinya pasangan suami istri. Saya jadi terinspirasi untuk mengajak pasangan main film juga. Nanti, kalo udah ada.

“Udah ada” = kemungkinan sekarang belum lahir. Doain aja.

Terus ada yang beneran tuna rungu juga di sini, si anak cewek. Aslinya, katanya dia yang ngajarin buat pake bahasa isyarat itu di film ini. Keren ya doi.

OVEROLLL.. KEREN.

Kalo yang kosannya sepi NOT RECOMMENDED, akan menimbulkan kehaluan yang luar binasa.

 

 

Diposkan pertama kali di simambahitam.blogspot.com pada 7 April 2018.

Ready Player One (2018)

This post is exactly posted on Indonesian National Film Day. I’m proud. 

Sama kayak film Dilan, diangkat dari novel. Bedanya kalo film Dilan, ngangkatnya berat, biar aku saja, kalo ini agak ringan, soalnya sutradaranya sudah malang melintang di jagat perfilman dunia, kelas berat makanya ngangkatnya ringan.

Siapalagi kalo bukan Steven Spielberg.

Denger nama sutradaranya aja udah merinding, keingetan sama dinosaurus, ikan hiu, sepeda terbang. Ya, pasti yang masa kecilnya sering nonton bioskop Trans TV pasti familiar sama film Jurassic Park dan Jaws.

Steven Spielberg kali ini mencoba berfantasi pas Bumi berada di tahun 2045 yang sudah rapuh, kumuh, dan sudah bubarnya payung teduh, bikin misuh-misuh.

Dimana-mana polusi, berhamburan korupsi, dan juga perubahan iklim drastis akibat globalisasi yang berpotensi kepunahan, otomatis mengharuskan manusia untuk nyari pelarian dari dunia nyata yang udah kacau balau. Kayak semacam internet aja, dunia untuk pelarian ini juga bisa disebut dunia maya, kayak sebuah simulasi kehidupan dan dibikin manusia mungkin bahasa kerennya itu virtual reality, namanya OASIS (Ontologically Anthropocentric Sensory Immersive Simulation). Semacam virtual game or virtual reality gitulah yang didalamnya manusia bisa melakukan berbagai pekerjaan, ngelakuin apapun yang mereka inginkan, nyari pengalaman yang gak bisa didapetin di dunia nyata, hingga untuk sekedar hiburan.

WHAT THE HELL!! SO COOL!

Yang punya OASIS ini yang orangnya dikisahkan lebih jago dari Steve Jobs dan Steve Wozniak soal prestasinya, karena itu kan udah di masa lalu, namanya James Halliday dan Ogden Morrow, doi bikin sebuah sayembara namanya “Anorak’s Game” yang hadiahnya kepemilikan penuh OASIS dan juga harta kekayaannya senilai 500 Milliar Dollar. Kebayang lagi susah-susah hidup ada yang mau hibah. Ini orang yang acapkali kita puji dengan, “mantap boskuh!”

Kisahnya, bakal berpusat di seorang pemuda namanya Wade Watts (Tye Sheridan) yang sering mengunjungi OASIS dan hidupnya miskin, akan mencoba memenangkan sayembara tersebut.

Sumpah speechless abis nonton film ini. Kayak balik lagi ke masa kecil, nostalgila gitu bro. Filmnya itu bakal banyak berkutat di dunia virtual reality ciptaan Jim Halliday yaitu OASIS. Di OASIS nya itu kayak seolah-olah kita main game online dengan grafik ciamik khas Steven Spielberg dan dengan layar superbesar. Kebayang gimana rasanya. Rasanya itu kagum, sambil berbinar-binar, ceritanya pun seru abis, saking serunya kayak keluar dari tubuh ini dan tubuh saya ini kayak melayang masuk layar.

Keseruannya dimulai dari menit-menit awal, bisa dibilang film ini punya unsur petualangan, aksi, dan juga teka-teki yang gokil. Apalagi kalo kamu adalah pengamat sejarah pop culture, atau ya yang sering main games jadul, nonton film jadul, film ini bakal nyuguhin berbagai easter eggs yang sayang untuk dilewatkan, mulai dari film-film-nya Spielberg zaman dulu, monster-monster yang dulu terkenal, bahkan robot terkenal, barang-barang masa kecil kayak semacam mainan, mobil-mobilan, tembak-tembakan.

Tembak, tembakan. Hmm..

Adegan aksi di film ini pun gak kacangan. Kalo kamu suka sama film-film bertema balapan mobil. Film ini punya action balapan juga namun dengan tema dan rintangan yang aneh abis.

Terus, cara menangin balapan tersebut pun kayak harus mikir dulu gitu loh, riset dulu kayak gimana sama tokoh utamanya, gak sekedar balapan siapa cepat dia dapat.

Terus ada adegan dimana kita malah seolah masuk ke film lain. Gak cuma sekedar diputerin film lain itu tapi bener-bener masuk ke film itu! Gila gak tuch!

Dan juga ada adegan battle yang ngingetin saya sama adegan battle di Game of Thrones. Battle of Bastards!!!

Saya gak bisa bandingin film ini sama bukunya kayak gimana soalnya film ini diangkat dari novel karya Ernest Cline dengan judul yang sama. Tapi skenarionya film ini untungnya ditulis sama Ernest Cline sendiri dibantu sama Zak Penn yang mungkin kurang lebih imajinasi yang disampaikan tersalurkan dengan baik di versi filmnya ini.

Something like teknis penyutradaraan dari film ini malahan kayak sempurna banget. Jam terbang bikin semua terasa so smoothsszzz.

Spielberg memang udah gak bisa diragukan lagi, banyak banget seolah yang kayak film ini itu transisinya sangat lembut yang bahkan sampe gak kerasa kalo ada transisi dari satu adegan ke adegan yang lain.

Di samping itu, film ini seolah mengajarkan kita untuk menghormati tiga dimensi waktu. Past, Present, dan Future. Soundtrack dan easter eggs-nya yang jadul-jadul (Duran Duran, Van Hallen, A-Ha, dan lain-lain) mewakili Past, kita sebagai penonton berada dalam masa sekarang mewakili Present, dan juga Future-nya yang merupakan setting di film ini pada tahun 2045.

Kita pun jangan ngeremehin kalo masa depan juga kayaknya walaupun dari segi teknologi makin bagus tapi mungkin peradabannya malah makin buruk. Kayak kita lebih nyaman di dunia maya dan lupa kalo dunia nyata kita malah gak keurus. Ini tuh nampar banget gitu loh.

Tapi ada beberapa yang bikin kesel, sih, seolah film ini tetap masuk akal tapi sebenarnya itu dangkal banget. Kayak di perusahaan besar musuhnya si tokoh utama kok gak ada CCTV?

Terus, bisa-bisanya sistem keamanan pemimpin perusahaan tergeletak begitu saja dan dengan mudah disadari oleh si tokoh utama.

Dan kayak ada semacam pengen misuh “Nah, itu bisa dihancurin kok gak dari tadi aja dihancurin.” Mungkin Spielberg sama Cline ingin membuat film ini sederhana kali, ya, gak terlalu mikir keras banget, lah.

 

 

Dipos pertama kali di simambahitam.blogspot.com pada 30 Maret 2018